Minggu, 15 Mei 2011

NTB, UI, dan NTB Center di UI


Tulisan ini lahir dari kegelisahan penulis selaku putra NTB yang sedang menempuh pendidikan di seberang pulau. Dalam berbagai forum dan interaksi keseharian, acapkali penulis jengah. Entah karena individu-individu di tempat penulis menempuh studi buruk dalam pelajaran geografi, atau justru NTB yang terasing dari arus-putar informasi, tidak jelas mana yang betul. Namun satu hal yang pasti, NTB bagai berada di negeri dongeng. Dimana itu NTB (baca: nama dan lokasi daerah), hampir semua orang yang ditemui penulis menggeleng kepala. Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Untuk nama dan lokasi saja tidak dikenal, apalagi potensi alam, peluang investasi, dan potret infrastrukturnya?
Potret Buram
Bahwa sekarang dunia telah begitu mobile, nampak benar adanya. Informasi berseliweran kesana-kemari. Tanpa batas, orang dapat mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain. Digitalisasi informasi telah mengkonstruksi peradaban baru, ruang maya menegasi disparitas geografis.
Milton Friedmann (2006) dalam bukunya “The World is Flat” dengan tegas sesumbar, bumi telah menjadi begitu datar, tak lagi dibatasi oleh sekat-sekat kaku geografis dan sistem lokal nasional. Dalam istilah Heidegger (1971), dunia hari ini telah mengalami penciutan jarak, batasan ruang telah hilang. Walau dalam beberapa hal tepat, penulis melihat relatifitas tesis tersebut. Memang distorsif, kenyataannya NTB kurang mengamini ungkapan Friedmann dan Heidegger.
Sejatinya, mobilitas informasi mampu mencerahkan persepsi masyarakat ibukota. Apalagi NTB masih dalam satu wilayah nasional, dengan dukungan sistem administasi yang jelas. Dibanding Bali, citra NTB di mata dunia bak bumi dan langit. Walau sekarang “Visit Lombok dan Sumbawa” gencar dikampanyekan, faktanya NTB tidak mampu menjadi icon baru pariwisata nasional.
Tanpa perlu membuka referensi, semua akan sepakat bahwa NTB dikenal dengan potensi peternakannya. Harusnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri susu dan variannya, malah terkubur dalam keasingan. Pun dengan potensi sumber daya mineralnya, hanya dikuasai oleh segelintir pemain. Belum lagi potensi kelautan dan perikanannya. Di tengah potensi yang melimpah, kadung pembangunan berjalan optimal. Apalagi terkendala suprastruktur yang lemah dalam spirit kerja dan SDM yang tidak begitu produktif (Indeks Pembangunan Manusia yang rendah), masa-masa suram NTB akan semakin panjang.
Publisitas
Mungkin pertanyaan menyeruak muncul, UI bisa apa? Penulis sadar, pesimisme wajar untuk diungkap. Selain karena UI begitu jauh letaknya, dipersepsikan kurang memahami realitas daerah, institusi riset sudah begitu banyak di NTB.
Namun demikian, UI tentu memiliki keistimewaannya sendiri. Selain dikenal sebagai basis intelektual, yang terpenting dan relevan adalah takdirnya sebagai katalisator wacana di tingkat nasional. Tidak mungkin dinafikan, bahwa UI menjadi begitu penting dalam upaya marketing gagasan, pengembangan jaringan, maupun massifikasi informasi. Kalau ditarik, peran UI dalam mendukung pembangunan di NTB adalah sebagai publikator potensi, selain fungsi riset- akademiknya.
Dalam melaksanakan fungsi publikasi tersebut, tentunya perlu kerjasama terarah diantara para pihak. UI sebagai wahana publisitas, pemerintah daerah sebagai supplier informasi, dan mahasiswa sebagai eksekutor publikasi. Dengan pola seperti ini, diharapkan akselerasi pembangunan di NTB bukan lagi sekadar impian.
Jikalau Richard Posner, pakar hukum ekonomi Chicago University sempat mengungkap adanya “asymetric information”, ketimpangan informasi riskan terjadi, kemitraan strategis ini menjadi solusi. Terutama dalam pengenalan produk dan potensi daerah, optimalisasi dapat dilaksanakan sesingkat-singkatnya. Pada akhirnya, NTB dengan cepat menjadi primadona baru.
NTB Center
Lantas, institusi macam apa yang mampu melakonkan peran demikian? Dalam pandangan penulis, format kelembagaannya harus profesional, independen namun berbasis, dengan network nasional maupun internasional. Berafiliasi intim dengan pihak kampus dan berwibawa di mata kepala daerah.
Bahwa yang menjadi dalang adalah mahasiswa NTB, tidak berarti cirinya seperti paguyuban. Logika profesional niscaya menjadi lebih utama dibanding pertautan emosional. Dengan demikian, kerja keseharian institusi ini adalah pengenalan sumber daya, penguatan jaringan, dan pemberdayaan riset. Dengan independensinya, institusi tersebut mampu menjalankan perannya secara optimal, tanpa perlu takut adanya intervensi. Layaknya masyarakat kampus, kemerdekaan berwacana tentu sudah given. Sebab demikian, independen berbasis dapat dimaknai dengan adanya komunikasi intim antara mahasiswa, UI, dan pemerintah daerah. Perkawinan antara kata “independen” dan “berbasis” adalah manifestasi dua peran, bahwa institusi ini juga berlakon sebagai medium strategis penyusunan kebijakan kepemerintahan. Dalam mendukung (khususnya) fungsi publikasi tersebut, harus ada kesepakatan legal, hitam di atas putih antara Pemerintah NTB dengan pihak UI. Hal ini penting (malah niscaya) sebagai legitimasi peran.
Agar tidak terjebak dalam normatifitas wacana, praksisme perlu dirajut. Oleh karenanya, kristalisasi dalam bentuk kegiatan taktis wajib adanya. Penulis mengkonstruksinya dalam tiga program unggulan. Pertama, NTB expo. Kiranya inilah wujud praktis dari fungsi publikasi yang penulis maksud. Kecacatan informasi yang selama ini menjebak publik harus dicarikan obatnya. Dan tiada lain, resep paling mujarab adalah pengenalan potensi lewat suatu exihibiton, pameran produk. Dalam kegiatan itu, diharapkan informasi bertukar dengan terang. Apa yang selama ini publik tidak ketahui, dapat dijelaskan dengan sedemikian gamblang. Target paling logis adalah munculnya ketertarikan untuk berinvestasi di NTB. Potensi yang terpendam tidak tergarap dapat dimanfaatkan dengan optimal.
Selain itu, diversifikasi aktor akan terjadi, monopoli akan berakhir perlahan. Efeknya, persaingan dalam berusaha akan meningkat, harga tawar akan semakin kompetitif. Persis di titik inilah, pemerintah dan rakyat pada umumnya mendapat keuntungan berlipat, berupa pajak dan lapangan kerja. Bagai domino, sudah pasti berlanjut ke sektor lain, khususnya bidang sosial dan budaya. Dengan terciptanya lapangan kerja, pengangguran menurun, angka kejahatan pun demikian. Peran penting UI dalam hal ini adalah sumbangan jaringan. Dengan afiliasinya, NTB Center dapat menggaet sekian banyak pihak, guna kesuksesan agenda expo.
Kedua, konseptor kebijakan. Di era keterbukaan ini, kemajuan adalah slogan. Tiada yang abadi, selain perubahan. Ada suatu masa yang perlu dikejar, yakni masa depan itu sendiri. Dalam konteks seperti itulah intelektual muda UI mengemban perannya. Artinya, faktor jarak tidak menjadi penghalang untuk menggagas kebijakan kepemerintahan. Justru menjadi poin plus, karena tidak terbelenggu realitas. Improvisasi ide dengan bebas dapat dilakukan. Didukung referensi yang banyak, kajian dapat dilakukan dengan mudah. Apalagi pakar di bidangnya mudah untuk diajak bertukar pikir, konsep strategis dapat dibuat dengan intens. Selanjutnya yang ketiga, pemberdayaan SDM. NTB Center diharapkan menjadi advokator dalam upaya peningkatan jumlah mahasiswa NTB di UI. Sehingga beberapa dasawarsa ke depan, pembangunan berbasis intelektualisme berjalan dengan tuntas di NTB.
Demikian urgensi pembentukan NTB Center di UI. Bahwa potret buram NTB hari ini nyata adanya, tidak berarti harus berapologia. Kiranya kemitraan strategis ini diwujudkan, Pemerintah Provinsi NTB niscaya menjadi pionir. Titik!
*Penggiat Hukum dan Kebijakan Publik FHUI, kelahiran NTB.
UI, Depok, 1 Januari 2011.
Cc: tulisan ini menjadi gagasan dasar pembentukan NTB Center di UI, yang kemudian dipertajam dalam position paper.

0 Komentar Untuk “NTB, UI, dan NTB Center di UI”

Posting Komentar