Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

inilah 10 Skandal Seks Politikus dalam sejarah


KASUS kekerasan seks Bos IMF Dominique Strauss-Kahn pada seorang pelayan hotel mewah di New York membuat kita menjadi mengingat kasus serupa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dikenal dunia. Mediaindonesia.com mencatat 10 skandal seks yang paling menghebohkan.


1.Dominique Strauss-Kahn

Dominique Strauss-Kahn yang digadang-gadang menjadi pengganti Presiden Prancis mendatang menggantikan Nicolas Sarkozy dalam pemilihan mendatang justru tersandung masalah skandal kekerasan seksual. Ia memang dikenal bermasalah dalam hal berelasi dengan perempuan. Kahn yang kini berusia 62 tahun ini telah menikah tiga kali, tahun 1967 dengan Helene Dumas, 1984 dengan Brigitte Guillemette dan 1991 dengan Anne Sinclair. Saat rumor ini menyeruak, Kahn masih terikat perkawinan dengan Anne yang merupakan mantan jurnalis televise Prancis TF1.

2.Silvio Berlusconi

Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi yang juga merupakan taipan media dan orang terkaya di Italia ini tetap berdaya meski sejumlah perselingkuhannya dengan sejumlah perempuan mengelillinginya. Gaya bicaranya yang lembut dan menyenangkan merupakan daya tarik perempuan untuk berselingkuh dengannya, bahkan perempuan di bawah umur yang lebih pantas menjadi anaknya. Tak pelak Veronica Lario, istrinya pun akhirnya menceraikan Berlusconi dengan alasan tidak tahan dengan sikapnya.

3.Bill Clinton dan Monica Lewinsky

Mempunyai istri secemerlang, secantik dan setangguh Hillary Rodham Clinton tidak mampu membuat mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton berselingkuh pada Monica Lewinsky yang saat itu berusia 22 tahun. Lewinsky adalah pegawai yang berstatus magang di Gedung Putih dan berbeda usia 4 tahun lebih tua dengan anak tunggal Bill Clinton-Hillary, Chelsea Victoria Clinton. Kasus ini tentu saja terjadi saat Clinton masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat sehingga House of Representative AS mengadakan sidang Impeachment tahun 1998 namun sayangnya Clinton berhasil lolos.

4.Pangeran Charles dan Camilla Parker Bowles

Anak tertua dari Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles yang menikah dengan Diana Spencer, berselingkuh dengan Camilla Parker Bowles sehingga kasus ini dikenal dengan Camillagate. Keduanya masih terikat jalinan tali pernikahan saat peristiwa ini terjadi. Charles bercerai dari Diana pada tahun 1996 setelah menikah selama 15 tahun. Kemudian pada tahun 9 April 2005 ia menikahi Camilla. Ada cerita unik berkaitan dengan hubunguan Charles-Camilla, percakapan yang kemudian dikenal dengan skandal ‘ tampongate’ iniberhasil menyadap pernyataan Charles yang ingin menjadi tampon Camilla.

5.Arnold Schwarzenegger dan Mildred Patricia Baena

Perselingkuhan Arnold Schwarzenegger yang menjabat sebagai Gubernur California dengan Mildred Patricia Baena membuat rumah tangga yang telah dibangunnya bersama dengan Maria Shriver goncang dan berujung pada perceraian. Shriver tidak hanya terluka, tetapi juga terhina karena mantan jurnalis televivi ini akhirnya mengetahui bahwa suaminya memiliki anak berusia 13 tahun dengan seorang staf rumah tangga.

6.Presiden Soekarno

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno gencar menolak poligami, namun menjadi orang nomor 1 yang setuju dan menjadi pelaku perselingkuhan. Oleh Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnost (KGB) ia dinilai mudah ditaklukkan, karena punya kelemahan fatal yaitu mudah bertekuk lutut pada perempuan. Meski ia pandai merayu dan dikenal sangat romantis ia jatuh ke pelukan Dewi Soekarno. Banyak perbincangan di dunia maya menyebut Dewi Soekarno sebagai pelacur kelas tinggi dari Jepang. Soekarno tercatat menikah dengan 8 perempuan. Hanya satu perempuan yang diceraikannya, yaitu Oetari istri pertamanya.

7.Mark Foley

Tidak ada perselingkuhan yang lebih baik, seperti skandal Mark Foley, anggota Kongres Partai Republik dari Florida pada tahun 2006 yang dilakukan pada remaja laki-laki berusia 16 tahun. Ia terbukti mengirimkan pesan pendek padanya yang berisi tulisan-tulisan penuh godaan. Foley pun akhirnya mengundurkan diri dan sebagian pihak berpendapat skandal ini memberikan kontribusi pada kejatuhan Partai Republik karena kehilangan banyak suara.

8.Larry Craig

Mantan senator Partai Republik dari Idaho ini melakukan perbuatan memalukan yakni pencabulan di toilet pria di bandara internasional Minneapolis-St. Paul. Ia mengumumkan pengunduran dirinya dari senat, namun tidak lama berselang ia mencabut pengakuan bersalahnya dan merilis pernyataan bahwa dia menolak mengundurkan diri sebagai Senator dari Idaho. Berita bagusnya, usaha ini gagal, publik terlanjur memercayainya.

9.Jeremy Thorpe

John Jeremy Thorpe seorang politikus Britania Raya, yang juga pemimpin Partai Liberal 1967-1976 dituduh berkomplot untuk membunuh seorang pria yang mengaku sebagai mantan kekasihnya. Ia pun kehilangan posisi dalam parlemen.

10.Thomas Jefferson dan Sally Hemings

Nama Thomas Jefferson yang tercatat sebagai tersukses memimpin Amerika karena berhasil meletakkan Deklarasi Kemerdekaan dan tercemerlang di masanya. Reputasinya yang gemilang menjadi redup saat James Callender, mengungkapkan adanya hubungan Thomas Jefferson dan seorang budak bernama Sally Hemings sebagai selir, dan memiliki beberapa orang anak dengannya. Thomas Jefferson yang saat itu berstatus duda tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai presiden AS ke 3. (Eno/X-12)

Sumber :http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/20/227462/40/6/10-Skandal-Seks-Negarawan-Terpopuler

5:20 AM by Mravsanjani · 0

Jumat, 20 Mei 2011

Kebohongan Runtuhnya WTC 9-11


PARA ILMUWAN & BANYAK ORANG DI DUNIA TELAH TAHU JIKA PELAKU WTC 9-11 BUKAN OSAMA ATAU ISLAM MANAPUN.
 
 
CERITA RESMI WTC 9-11 YG DISIARKAN MELALUI MASS MEDIA ADALAH BOHONG BESAR DAN TERBUKTI BOHONG MELALUI ILMU SAINS ARCHITECS.

para ahli forensik Amerika yang bukan muslim sepakat mengatakan bahwa runtuhnya bangunan itu bukan karena tabrakan pesawat. Prof Earl Jhones, mengatakan bahwa bangunan WTC terlalu kokoh untuk runtuh begitu saja hanya karena ditabrak pesawat, bahkan oleh kebakaran hebat sekalipun.

Rekaman video menunjukkan dengan jelas bahwa gedung itu runtuh lantai demi lantai setelah sebelumnya tiap lantai itu mengalami ledakan dan mengeluarkan asap. Lagi pula, gedung itu runtuh hanya dalam waktu 8, 4 detik saja. Terlalu cepat untuk sebuah keruntuhan wajar karena ditabrak pesawat.
Kecepatan runtuh yang hanya 8, 4 detik itu nyaris sama dengan kalau kita melempar batu dari ketinggi lantai 94, tepat di lantai di mana pesawat itu menabrak. Seolah-olah gedung itu sama sekali tidak punya tulang dan kerangka penyangga.
Yang paling lucu dan menggelikan adalah menara WTC nomor (lantai) 7. Gedung ini sama sekali tidak ditabrak pesawat, juga tidak mengalami kebakaran hebat. Ternyata gedung ini ikut runtuh juga. Ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Tapi apa kata Bush? Gedung ini runtuh karena udara panas dari kebakaran di Gedung WTC 1 dan 2.

Sungguh aneh dan terlalu mengada-ada. Bagaimana sebuah gedung pencakar langit bisa runtuh tiba-tiba hanya karena ada gedung lain terbakar, padahal jaraknya 300 kaki dan dipisahkan dengan gedung (lantai) lain. Sedangkan gedung yang memisahkan justru tidak runtuh.

Yang mengungkap bahwa runtuhnya menara WTC bukan tabrakan pesawat tetapi ada bom yang dipasang jauh hari sebelumnya, bukan umat Islam. Yang mengatakan adalah para ahli yang ingin kejujuran ditegakkan.

Intinya, penyelidikan para ahli telah sampai kepada satu kesimpulan, bahwa gedung itu runtuh karena bom yang dipasang sebelumnya. Bukan karena tabrakan pesawatnya si Bin Ladin itu.



Bukan mustahil pula jika rumor terrorist yg terjadi di banyak negara termasok di asia di dalangi oleh mereka pula. Sebelum WTC 9-11 tak ada istilah terrorist, tak ada serangan terrorist.



“Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (an-Nahl: 45)

Sumber

5:05 AM by Mravsanjani · 0

Minggu, 15 Mei 2011

NTB, UI, dan NTB Center di UI


Tulisan ini lahir dari kegelisahan penulis selaku putra NTB yang sedang menempuh pendidikan di seberang pulau. Dalam berbagai forum dan interaksi keseharian, acapkali penulis jengah. Entah karena individu-individu di tempat penulis menempuh studi buruk dalam pelajaran geografi, atau justru NTB yang terasing dari arus-putar informasi, tidak jelas mana yang betul. Namun satu hal yang pasti, NTB bagai berada di negeri dongeng. Dimana itu NTB (baca: nama dan lokasi daerah), hampir semua orang yang ditemui penulis menggeleng kepala. Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Untuk nama dan lokasi saja tidak dikenal, apalagi potensi alam, peluang investasi, dan potret infrastrukturnya?
Potret Buram
Bahwa sekarang dunia telah begitu mobile, nampak benar adanya. Informasi berseliweran kesana-kemari. Tanpa batas, orang dapat mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain. Digitalisasi informasi telah mengkonstruksi peradaban baru, ruang maya menegasi disparitas geografis.
Milton Friedmann (2006) dalam bukunya “The World is Flat” dengan tegas sesumbar, bumi telah menjadi begitu datar, tak lagi dibatasi oleh sekat-sekat kaku geografis dan sistem lokal nasional. Dalam istilah Heidegger (1971), dunia hari ini telah mengalami penciutan jarak, batasan ruang telah hilang. Walau dalam beberapa hal tepat, penulis melihat relatifitas tesis tersebut. Memang distorsif, kenyataannya NTB kurang mengamini ungkapan Friedmann dan Heidegger.
Sejatinya, mobilitas informasi mampu mencerahkan persepsi masyarakat ibukota. Apalagi NTB masih dalam satu wilayah nasional, dengan dukungan sistem administasi yang jelas. Dibanding Bali, citra NTB di mata dunia bak bumi dan langit. Walau sekarang “Visit Lombok dan Sumbawa” gencar dikampanyekan, faktanya NTB tidak mampu menjadi icon baru pariwisata nasional.
Tanpa perlu membuka referensi, semua akan sepakat bahwa NTB dikenal dengan potensi peternakannya. Harusnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri susu dan variannya, malah terkubur dalam keasingan. Pun dengan potensi sumber daya mineralnya, hanya dikuasai oleh segelintir pemain. Belum lagi potensi kelautan dan perikanannya. Di tengah potensi yang melimpah, kadung pembangunan berjalan optimal. Apalagi terkendala suprastruktur yang lemah dalam spirit kerja dan SDM yang tidak begitu produktif (Indeks Pembangunan Manusia yang rendah), masa-masa suram NTB akan semakin panjang.
Publisitas
Mungkin pertanyaan menyeruak muncul, UI bisa apa? Penulis sadar, pesimisme wajar untuk diungkap. Selain karena UI begitu jauh letaknya, dipersepsikan kurang memahami realitas daerah, institusi riset sudah begitu banyak di NTB.
Namun demikian, UI tentu memiliki keistimewaannya sendiri. Selain dikenal sebagai basis intelektual, yang terpenting dan relevan adalah takdirnya sebagai katalisator wacana di tingkat nasional. Tidak mungkin dinafikan, bahwa UI menjadi begitu penting dalam upaya marketing gagasan, pengembangan jaringan, maupun massifikasi informasi. Kalau ditarik, peran UI dalam mendukung pembangunan di NTB adalah sebagai publikator potensi, selain fungsi riset- akademiknya.
Dalam melaksanakan fungsi publikasi tersebut, tentunya perlu kerjasama terarah diantara para pihak. UI sebagai wahana publisitas, pemerintah daerah sebagai supplier informasi, dan mahasiswa sebagai eksekutor publikasi. Dengan pola seperti ini, diharapkan akselerasi pembangunan di NTB bukan lagi sekadar impian.
Jikalau Richard Posner, pakar hukum ekonomi Chicago University sempat mengungkap adanya “asymetric information”, ketimpangan informasi riskan terjadi, kemitraan strategis ini menjadi solusi. Terutama dalam pengenalan produk dan potensi daerah, optimalisasi dapat dilaksanakan sesingkat-singkatnya. Pada akhirnya, NTB dengan cepat menjadi primadona baru.
NTB Center
Lantas, institusi macam apa yang mampu melakonkan peran demikian? Dalam pandangan penulis, format kelembagaannya harus profesional, independen namun berbasis, dengan network nasional maupun internasional. Berafiliasi intim dengan pihak kampus dan berwibawa di mata kepala daerah.
Bahwa yang menjadi dalang adalah mahasiswa NTB, tidak berarti cirinya seperti paguyuban. Logika profesional niscaya menjadi lebih utama dibanding pertautan emosional. Dengan demikian, kerja keseharian institusi ini adalah pengenalan sumber daya, penguatan jaringan, dan pemberdayaan riset. Dengan independensinya, institusi tersebut mampu menjalankan perannya secara optimal, tanpa perlu takut adanya intervensi. Layaknya masyarakat kampus, kemerdekaan berwacana tentu sudah given. Sebab demikian, independen berbasis dapat dimaknai dengan adanya komunikasi intim antara mahasiswa, UI, dan pemerintah daerah. Perkawinan antara kata “independen” dan “berbasis” adalah manifestasi dua peran, bahwa institusi ini juga berlakon sebagai medium strategis penyusunan kebijakan kepemerintahan. Dalam mendukung (khususnya) fungsi publikasi tersebut, harus ada kesepakatan legal, hitam di atas putih antara Pemerintah NTB dengan pihak UI. Hal ini penting (malah niscaya) sebagai legitimasi peran.
Agar tidak terjebak dalam normatifitas wacana, praksisme perlu dirajut. Oleh karenanya, kristalisasi dalam bentuk kegiatan taktis wajib adanya. Penulis mengkonstruksinya dalam tiga program unggulan. Pertama, NTB expo. Kiranya inilah wujud praktis dari fungsi publikasi yang penulis maksud. Kecacatan informasi yang selama ini menjebak publik harus dicarikan obatnya. Dan tiada lain, resep paling mujarab adalah pengenalan potensi lewat suatu exihibiton, pameran produk. Dalam kegiatan itu, diharapkan informasi bertukar dengan terang. Apa yang selama ini publik tidak ketahui, dapat dijelaskan dengan sedemikian gamblang. Target paling logis adalah munculnya ketertarikan untuk berinvestasi di NTB. Potensi yang terpendam tidak tergarap dapat dimanfaatkan dengan optimal.
Selain itu, diversifikasi aktor akan terjadi, monopoli akan berakhir perlahan. Efeknya, persaingan dalam berusaha akan meningkat, harga tawar akan semakin kompetitif. Persis di titik inilah, pemerintah dan rakyat pada umumnya mendapat keuntungan berlipat, berupa pajak dan lapangan kerja. Bagai domino, sudah pasti berlanjut ke sektor lain, khususnya bidang sosial dan budaya. Dengan terciptanya lapangan kerja, pengangguran menurun, angka kejahatan pun demikian. Peran penting UI dalam hal ini adalah sumbangan jaringan. Dengan afiliasinya, NTB Center dapat menggaet sekian banyak pihak, guna kesuksesan agenda expo.
Kedua, konseptor kebijakan. Di era keterbukaan ini, kemajuan adalah slogan. Tiada yang abadi, selain perubahan. Ada suatu masa yang perlu dikejar, yakni masa depan itu sendiri. Dalam konteks seperti itulah intelektual muda UI mengemban perannya. Artinya, faktor jarak tidak menjadi penghalang untuk menggagas kebijakan kepemerintahan. Justru menjadi poin plus, karena tidak terbelenggu realitas. Improvisasi ide dengan bebas dapat dilakukan. Didukung referensi yang banyak, kajian dapat dilakukan dengan mudah. Apalagi pakar di bidangnya mudah untuk diajak bertukar pikir, konsep strategis dapat dibuat dengan intens. Selanjutnya yang ketiga, pemberdayaan SDM. NTB Center diharapkan menjadi advokator dalam upaya peningkatan jumlah mahasiswa NTB di UI. Sehingga beberapa dasawarsa ke depan, pembangunan berbasis intelektualisme berjalan dengan tuntas di NTB.
Demikian urgensi pembentukan NTB Center di UI. Bahwa potret buram NTB hari ini nyata adanya, tidak berarti harus berapologia. Kiranya kemitraan strategis ini diwujudkan, Pemerintah Provinsi NTB niscaya menjadi pionir. Titik!
*Penggiat Hukum dan Kebijakan Publik FHUI, kelahiran NTB.
UI, Depok, 1 Januari 2011.
Cc: tulisan ini menjadi gagasan dasar pembentukan NTB Center di UI, yang kemudian dipertajam dalam position paper.

10:51 PM by Mravsanjani · 0